February 4, 2026

seputardigital

update terbaru informasi teknologi seluruh dunia

1.800 Warga Tiongkok Ditahan dalam Operasi Online Scam

Otoritas Kamboja melakukan penggerebekan besar-besaran terhadap jaringan penipuan daring atau online scam dan menahan lebih dari 2.000 orang dalam satu operasi penegakan hukum berskala nasional. Dari jumlah tersebut, hampir 1.800 orang merupakan warga negara Tiongkok, menandai salah satu operasi anti-penipuan terbesar yang pernah dilakukan pemerintah Kamboja.

Penggerebekan ini berlangsung di tengah meningkatnya tekanan dari Beijing agar Phnom Penh bertindak lebih tegas terhadap industri penipuan daring yang selama beberapa tahun terakhir berkembang pesat di wilayah Kamboja. Kementerian Dalam Negeri Kamboja menyebut operasi tersebut sebagai bagian dari komitmen pemerintah untuk membersihkan negara dari praktik kejahatan lintas negara yang merusak reputasi nasional.

Dalam pernyataan resminya, Kementerian Dalam Negeri Kamboja mengungkapkan bahwa kepolisian melaksanakan operasi penegakan hukum skala besar di sebuah kompleks penipuan daring di Bavet. Kota Bavet sendiri merupakan kota terbesar di Provinsi Svay Rieng, wilayah tenggara Kamboja yang berbatasan langsung dengan Vietnam.

Sebanyak 2.044 warga negara asing ditahan dalam operasi tersebut. Dari jumlah itu, 1.792 orang berasal dari Tiongkok daratan, lima orang dari Taiwan, dan 177 warga Vietnam. Selain itu, terdapat 179 warga Myanmar, sementara sisanya berasal dari berbagai negara di Asia Tenggara dan Asia Selatan. Data ini mempertegas karakter internasional dari jaringan penipuan daring yang beroperasi di kawasan tersebut.

Pihak kementerian tidak merinci apakah seluruh tersangka akan diekstradisi ke negara asal masing-masing. Namun, warga negara Tiongkok diperkirakan akan diserahkan kepada otoritas Beijing, mengikuti pola kasus-kasus sebelumnya. Salah satu contoh yang disebut adalah kasus Chen Zhi, pendiri dan ketua Prince Holding Group, yang dipulangkan ke Tiongkok pada awal Januari lalu. Chen dituduh terlibat dalam berbagai aktivitas ilegal, termasuk pengoperasian kasino tanpa izin, penipuan, serta pencucian uang.

Media lokal Cambodia China Times melaporkan bahwa penggerebekan di Bavet merupakan “operasi terbesar” sejak pemerintah Kamboja meluncurkan penindakan nasional terhadap industri online scam. Kompleks yang digerebek dilaporkan terdiri dari 22 bangunan besar dan beroperasi dengan kedok kasino, namun di dalamnya menjalankan berbagai aktivitas ilegal, mulai dari penipuan telekomunikasi hingga penipuan daring lintas negara.

Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Kamboja, Touch Sokhak, menegaskan bahwa operasi ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah tidak akan melonggarkan penindakan terhadap pelaku kejahatan siber. Pernyataannya yang dikutip oleh Channel News Asia menyebutkan bahwa Kamboja “bukan tempat aman, melainkan neraka bagi para penjahat.”

Penindakan tidak hanya terfokus di Bavet. Operasi serentak juga dilakukan di wilayah lain, termasuk Provinsi Sihanoukville, sekitar 250 kilometer di barat daya ibu kota Phnom Penh. Di wilayah ini, tekanan aparat keamanan disebut membuat sejumlah pusat penipuan menghentikan kegiatan mereka secara sukarela, dengan para pelaku meninggalkan lokasi sebelum aparat tiba.

Langkah intensif ini merupakan bagian dari pengetatan nasional yang mulai ditingkatkan sejak bulan lalu. Salah satu pemicu utamanya adalah tekanan dari pemerintah Tiongkok, yang dalam beberapa tahun terakhir gencar memberantas penipuan telekomunikasi dan daring. Setelah jaringan besar di wilayah Myanmar utara dibubarkan atau berpindah lokasi, banyak sindikat diketahui mengalihkan operasinya ke Kamboja.

Duta Besar Tiongkok untuk Kamboja, Wang Wenbin, menyatakan bahwa kejahatan penipuan daring dan kejahatan lintas negara terkait telah menjadi hambatan serius bagi pendalaman kerja sama bilateral kedua negara. Pernyataan tersebut disampaikan dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Kamboja Prak Sokhonn dan Menteri Dalam Negeri Sar Sokha beberapa waktu lalu.

Pernyataan keras juga datang dari pejabat tinggi Kamboja. Menteri Luar Negeri Prak Sokhonn dan Wakil Perdana Menteri Sun Chanthol secara terbuka menyatakan komitmen mereka untuk melanjutkan perang melawan industri penipuan daring. Sun Chanthol bahkan menegaskan bahwa praktik penipuan online telah merusak citra internasional Kamboja.

“Penipuan online telah merusak reputasi nasional Kamboja, dan kami tidak akan menyisakan upaya apa pun untuk memberantasnya,” ujar Sun Chanthol dalam pernyataan resmi.

Data terbaru menunjukkan bahwa penindakan ini bukan bersifat simbolis. Menurut laporan Komite Ad-Hoc Kamboja untuk Pemberantasan Penipuan Daring yang dirilis pekan lalu, sebanyak 5.106 tersangka dari 23 negara telah ditangkap dalam tujuh bulan terakhir. Dari jumlah tersebut, 4.534 orang telah dideportasi ke negara asal masing-masing.

Angka-angka ini menegaskan skala masif industri penipuan daring yang sebelumnya beroperasi di Kamboja, sekaligus menunjukkan arah kebijakan baru pemerintah Phnom Penh yang ingin memutus keterkaitan negara itu dengan jaringan kejahatan siber internasional. Ke depan, keberlanjutan penindakan ini akan menjadi ujian serius bagi komitmen Kamboja dalam memperbaiki tata kelola keamanan dan memperkuat kepercayaan mitra internasional.

Baca Juga : Saham Fundamental Bagus Tetap Menguat, Investor Jangan Panik

Cek Juga Artikel Dari Platform : podiumnews