Percepatan transformasi digital yang kian masif di Indonesia membawa peluang besar sekaligus tantangan nyata bagi masyarakat. Teknologi keuangan, platform perdagangan daring, serta layanan perbankan digital kini semakin mudah diakses. Namun, tanpa pemahaman literasi finansial yang memadai, kemudahan tersebut justru berpotensi menjerumuskan masyarakat pada risiko baru, mulai dari pengelolaan keuangan yang keliru hingga jeratan pinjaman ilegal. Berangkat dari keprihatinan itulah, Imas Aan Ubudiah, anggota Komisi VI DPR RI yang akrab disapa Teh Imas, turun langsung ke daerah pemilihannya di Garut, Jawa Barat.
Melalui kegiatan sosialisasi bertajuk “Go Digital, Go Financial: Wujudkan Kemandirian dan Kesejahteraan Ekonomi Keluarga”, Teh Imas mengajak warga Garut untuk tidak sekadar menjadi penonton di tengah arus digitalisasi, melainkan tampil sebagai pelaku utama ekonomi digital. Kegiatan yang digelar pada akhir Desember tersebut merupakan hasil kolaborasi Komisi VI DPR RI dengan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, serta didukung oleh Yayasan Ubudiah Ma’soem (YUMA) sebagai pelaksana kegiatan di lapangan.
Menjembatani Kebijakan Pusat dan Kebutuhan Daerah
Dalam sambutannya, Teh Imas menegaskan bahwa perannya sebagai wakil rakyat tidak hanya terbatas pada pengawasan kinerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di tingkat pusat. Lebih dari itu, ia memandang penting untuk memastikan agar kebijakan dan program nasional benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat di daerah.
Menurutnya, inklusi keuangan bukan sekadar jargon kebijakan, melainkan hak setiap warga negara yang harus diiringi dengan pemahaman dan kecakapan literasi keuangan. Tanpa literasi, akses terhadap layanan keuangan justru dapat menjadi bumerang.
“Warga Garut harus naik kelas. Jangan hanya menjadi konsumen atau penonton di era digital, tetapi menjadi pelaku aktif yang mandiri secara ekonomi. Program-program perbankan dan pembiayaan harus dimanfaatkan secara cerdas dan aman,” ujar Teh Imas di hadapan peserta sosialisasi.
Menyentuh Akar Rumput, Bukan Sekadar Seremonial
Berbeda dari kegiatan sosialisasi yang bersifat formal dan seremonial, forum ini dirancang untuk menyentuh langsung kebutuhan masyarakat akar rumput. Peserta yang hadir berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pelaku usaha mikro dan kecil, tokoh pemuda, hingga ibu rumah tangga yang sehari-hari berperan penting dalam mengelola keuangan keluarga.
Materi yang disampaikan pun disesuaikan dengan kondisi riil masyarakat. Peserta diajak memahami cara memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas pasar usaha, seperti penggunaan media sosial dan platform daring untuk pemasaran produk lokal. Selain itu, mereka juga diperkenalkan pada berbagai layanan perbankan digital yang dapat diakses secara aman dan legal.
Go Digital dan Go Financial: Dua Konsep yang Saling Melengkapi
Teh Imas menjelaskan bahwa konsep Go Digital dan Go Financial tidak dapat dipisahkan. Go Digital berarti kemampuan memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing usaha, sementara Go Financial menekankan kecakapan dalam mengelola keuangan serta mengakses layanan perbankan yang aman dan terpercaya.
Dalam konteks ini, masyarakat diperkenalkan pada produk dan layanan perbankan seperti tabungan digital, sistem pembayaran non-tunai, hingga akses pembiayaan usaha rakyat seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR). Menurut Teh Imas, pemahaman terhadap layanan resmi ini sangat penting agar masyarakat tidak terjebak pada praktik rentenir atau pinjaman online ilegal yang marak terjadi.
“Literasi keuangan adalah benteng utama. Kalau masyarakat paham, mereka tidak mudah tergiur tawaran instan yang justru merugikan,” tegasnya.
Antisipasi Risiko Kejahatan Digital
Selain membahas peluang, kegiatan ini juga memberi perhatian serius pada aspek mitigasi risiko. Di tengah meningkatnya kejahatan siber dan penipuan berbasis digital, peserta dibekali pengetahuan dasar mengenai keamanan transaksi keuangan daring.
Panitia menghadirkan narasumber yang kompeten di bidang keamanan siber untuk memberikan edukasi teknis, seperti cara mengenali modus penipuan, menjaga kerahasiaan data pribadi, serta langkah-langkah aman dalam menggunakan aplikasi perbankan digital. Langkah ini dinilai krusial agar transformasi digital berjalan seiring dengan peningkatan kesadaran akan keamanan.
Mendorong UMKM Garut Naik Kelas
Garut dikenal memiliki potensi besar di sektor UMKM, mulai dari kuliner, kerajinan, hingga produk pertanian dan fesyen lokal. Namun, banyak pelaku usaha yang masih menghadapi kendala permodalan dan pemasaran. Melalui sosialisasi ini, Teh Imas berharap pelaku UMKM dapat memanfaatkan ekosistem digital untuk memperluas jangkauan pasar sekaligus meningkatkan efisiensi usaha.
Dengan dukungan perbankan dan literasi yang memadai, UMKM diharapkan mampu naik kelas, tidak hanya bertahan di pasar lokal, tetapi juga menembus pasar yang lebih luas. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis digital yang inklusif dan berkelanjutan.
Menuju Kemandirian Ekonomi Keluarga
Pada akhirnya, tujuan utama dari kegiatan ini adalah mewujudkan kemandirian dan kesejahteraan ekonomi keluarga. Teh Imas menekankan bahwa penguatan ekonomi digital harus dimulai dari unit terkecil, yakni keluarga. Dengan pengelolaan keuangan yang baik dan pemanfaatan teknologi yang tepat, keluarga diharapkan memiliki daya tahan ekonomi yang lebih kuat di tengah dinamika global.
“Ekonomi digital bukan milik segelintir orang. Semua warga berhak dan harus siap menghadapinya. Tugas kita bersama memastikan masyarakat punya bekal pengetahuan agar bisa melangkah dengan percaya diri,” pungkas Teh Imas.
Melalui inisiatif ini, Garut diharapkan tidak hanya mengikuti arus digitalisasi, tetapi mampu menjadi contoh daerah yang warganya cakap, mandiri, dan berdaya saing di era ekonomi digital.
Baca Juga : 9 Negara dengan PPh 0 Persen bagi Digital Nomad
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : suarairama


More Stories
Berkas Roy Suryo Cs Dikembalikan, KUHAP Disorot Kuasa Hukum
MU Cetak Tiga Kemenangan Beruntun di Era Carrick
1.800 Warga Tiongkok Ditahan dalam Operasi Online Scam