Pascabencana dan Luka yang Tak Terlihat
Bencana alam yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik pada rumah, fasilitas umum, dan sekolah. Dampak yang kerap luput dari perhatian adalah luka psikososial, terutama pada anak-anak. Di tengah proses pembersihan rumah dan pemulihan lingkungan, anak-anak justru berada pada posisi paling rentan—kehilangan ruang aman untuk bermain, belajar, dan merasa terlindungi.
Berangkat dari keprihatinan inilah Dongeng Ceria memprakarsai Program Zona Anak, sebuah ruang aman yang dirancang khusus untuk mendampingi anak-anak pascabencana agar mereka tetap dapat tumbuh, belajar, dan pulih secara emosional.
Dari Kekhawatiran di Lapangan hingga Zona Aman
Dena, perwakilan Dongeng Ceria, menceritakan bahwa gagasan Zona Anak lahir saat timnya pertama kali terjun langsung ke wilayah terdampak di Aceh. Banyak anak terlihat berlarian di jalan, mengejar kendaraan yang berhenti, sementara orang tua mereka sibuk membersihkan rumah dari lumpur dan sisa bencana.
Situasi ini dinilai berbahaya. Selain risiko kecelakaan lalu lintas, anak-anak juga terpapar debu dan lingkungan yang tidak sehat. Dari pengamatan tersebut, Dongeng Ceria menyadari pentingnya menghadirkan satu ruang terpusat yang aman dan terpantau, agar anak-anak tidak berkeliaran tanpa pengawasan.
Zona Anak pun dirancang sebagai tempat berkumpul yang aman, sekaligus memberikan ketenangan bagi orang tua untuk fokus pada proses pemulihan rumah dan lingkungan sekitar.
Kolaborasi sebagai Kunci Keberhasilan
Program Zona Anak tidak berjalan sendiri. Pelaksanaannya dilakukan secara kolaboratif dengan berbagai lembaga dan komunitas yang memiliki kepedulian terhadap isu anak dan kebencanaan di Aceh. Kerja sama ini menjadi penting mengingat jumlah anak yang terlibat cukup besar.
Pada salah satu lokasi, yakni Zona Anak di Mushola Al Hikmah, Kecamatan Karang Baru, tercatat kurang lebih 100 anak mengikuti kegiatan setiap harinya. Dena menyampaikan apresiasi khusus kepada para ibu dan warga sekitar yang secara sukarela membantu, mulai dari memasak hingga menyiapkan makanan untuk anak-anak.
Dukungan masyarakat lokal ini menjadi bukti bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya soal bantuan dari luar, tetapi juga kekuatan gotong royong warga setempat.
Kurikulum Kegiatan yang Terstruktur
Menariknya, setiap titik Zona Anak menggunakan kurikulum kegiatan yang sama agar kualitas pendampingan tetap terjaga. Kegiatan dimulai pukul 14.00 waktu setempat, setelah anak-anak melaksanakan salat Zuhur dan makan siang.
Rangkaian aktivitas diawali dengan ice breaking untuk mencairkan suasana dan membangun rasa aman. Selanjutnya, anak-anak mengikuti aktivitas motorik dan kreatif seperti menggambar, menulis, membuat cerita, hingga melipat origami. Kegiatan ini dirancang untuk membantu anak mengekspresikan perasaan mereka secara tidak langsung.
Setelah itu, anak-anak beristirahat dan melaksanakan salat Asar berjamaah, dilanjutkan dengan mengaji bersama menggunakan Iqro dan Al-Qur’an. Pendekatan ini tidak hanya menyentuh aspek psikologis, tetapi juga spiritual, yang penting bagi masyarakat Aceh.
Menanamkan Disiplin dan Kemandirian
Selain bermain dan belajar, Zona Anak juga menanamkan nilai disiplin dan kemandirian. Anak-anak diajarkan kebiasaan sederhana namun bermakna, seperti merapikan sandal, membersihkan area belajar, serta menjalankan jadwal piket harian.
Nilai-nilai ini diharapkan dapat membantu anak-anak membangun kembali rutinitas positif yang sempat terputus akibat bencana. Dalam situasi darurat, rutinitas sederhana sering kali menjadi jangkar psikologis yang membantu anak merasa aman dan terkontrol.
Hak Anak Tetap Prioritas
Dena menegaskan bahwa dalam kondisi seberat apa pun, anak-anak tetap memiliki hak untuk belajar dan bermain. Zona Anak hadir untuk menanamkan pesan bahwa meskipun berada di situasi sulit, anak-anak Aceh Tamiang tetap bisa tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan hebat.
Pendampingan ini akan terus berjalan hingga anak-anak dapat kembali bersekolah secara layak. Mengingat sejumlah sekolah masih belum memungkinkan untuk digunakan, Dongeng Ceria juga menjalankan program pembersihan sekolah bersama tim gabungan setempat sebagai bagian dari upaya pemulihan fasilitas pendidikan.
Suara Anak-Anak dari Zona Anak
Antusiasme anak-anak menjadi indikator paling nyata keberhasilan Zona Anak. Ayesha Ningrum (8), siswa kelas 2 SD, mengaku senang bisa mengikuti kegiatan menggambar dan bermain bersama teman-temannya. Baginya, Zona Anak adalah tempat yang menyenangkan di tengah situasi sulit.
Sementara itu, Aufa Bima (10), siswa kelas 5 SD, merasa bahagia karena tetap bisa bermain dan ikut kegiatan membersihkan masjid. Ia dan teman-temannya menyampaikan rasa terima kasih kepada para relawan yang telah menghadirkan rasa aman dan keceriaan di dekat tempat tinggal mereka.
Lima Titik Zona Anak di Aceh Tamiang dan Sekitarnya
Hingga saat ini, Zona Anak telah hadir di lima titik dengan jumlah anak yang cukup signifikan:
- Desa Medang Ara, Dusun Suka Makmur, Kecamatan Karang Baru – sekitar 50 anak
- Desa Medang Ara, Dusun Barang Mekku, Kecamatan Karang Baru – 42 anak
- Mushola Al Hikmah, Desa Pahlawan, Kecamatan Karang Baru – sekitar 50–100 anak
- Mushola Lorong B, Kampung Jawa Langsa, Kecamatan Langsa Baro, Kota Langsa – sekitar 70–100 anak
- Dusun 1 dan 2 Desa Pahlawan, Kecamatan Manyak Payed – sekitar 150 anak
Angka-angka ini menunjukkan besarnya kebutuhan ruang aman bagi anak-anak pascabencana.
Pemulihan Anak sebagai Investasi Masa Depan
Pemulihan psikososial anak bukanlah pekerjaan jangka pendek. Upaya ini merupakan investasi jangka panjang untuk memastikan generasi muda tidak tumbuh dengan trauma berkepanjangan. Kehadiran Zona Anak menjadi contoh praktik baik penanganan bencana yang berfokus pada manusia, bukan hanya infrastruktur.
Sebagaimana disampaikan oleh Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, pemulihan bencana harus menyentuh aspek fisik dan nonfisik secara seimbang.
Menjaga Harapan di Tengah Pemulihan
Zona Anak di Aceh Tamiang membuktikan bahwa di tengah puing-puing bencana, harapan masih bisa tumbuh. Melalui ruang aman, pendampingan, dan sentuhan kemanusiaan, anak-anak diberi kesempatan untuk kembali tersenyum, belajar, dan bermimpi.
Di balik tawa dan aktivitas sederhana, Zona Anak sedang menanam benih pemulihan—bahwa masa depan tetap bisa dirajut, bahkan dari situasi paling sulit sekalipun.
Baca Juga : Dandim Depok Tegaskan Negara Hadir Jaga Malam Tahun Baru
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : 1reservoir


More Stories
Berkas Roy Suryo Cs Dikembalikan, KUHAP Disorot Kuasa Hukum
MU Cetak Tiga Kemenangan Beruntun di Era Carrick
1.800 Warga Tiongkok Ditahan dalam Operasi Online Scam