February 4, 2026

seputardigital

update terbaru informasi teknologi seluruh dunia

Keselamatan Kerja Jadi Fondasi Layanan Publik Maritim Andal

Penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang konsisten kini menjadi elemen krusial dalam menciptakan pelayanan publik yang andal, khususnya di sektor maritim yang memiliki tingkat risiko tinggi. Aktivitas pemeriksaan kapal, klasifikasi, sertifikasi, hingga pengawasan fasilitas lepas pantai menuntut standar keselamatan yang tidak hanya patuh regulasi, tetapi juga tertanam sebagai budaya kerja. Inilah komitmen yang terus ditegaskan oleh PT Biro Klasifikasi Indonesia (Persero) melalui penyelenggaraan HSE Strategic Briefing 2026 dalam rangka Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional.

Sebagai badan klasifikasi nasional, BKI memiliki peran strategis dalam memastikan keselamatan kapal dan infrastruktur maritim Indonesia. Peran ini tak hanya berdampak pada dunia industri, tetapi juga langsung menyentuh kepentingan publik, mulai dari keselamatan pelayaran, perlindungan lingkungan laut, hingga keberlanjutan layanan transportasi dan logistik nasional. Oleh karena itu, keselamatan kerja internal menjadi fondasi utama agar pelayanan publik maritim dapat berjalan dengan aman dan terpercaya.

Keselamatan Bukan Sekadar Prosedur

Direktur Utama BKI, R. Benny Susanto, menegaskan bahwa keselamatan dan kesehatan kerja tidak boleh dipandang sebagai kewajiban administratif semata. Menurutnya, K3 harus menjadi nilai yang hidup dan tercermin dalam perilaku sehari-hari seluruh insan perusahaan.

“Budaya keselamatan bukan sekadar slogan atau tulisan di dinding. Ia harus tampak dalam keputusan, kebiasaan, dan tindakan kita setiap hari, termasuk ketika tidak ada yang mengawasi,” ujar Benny dalam keterangan tertulisnya.

Pernyataan tersebut menegaskan pergeseran paradigma dari compliance-based safety menuju culture-based safety. Dalam konteks ini, kepatuhan terhadap standar hanya menjadi dasar, sementara kesadaran dan kepedulian individu menjadi penggerak utama pencegahan kecelakaan kerja. Pendekatan ini penting mengingat pekerjaan di sektor maritim kerap dilakukan di lingkungan ekstrem, seperti di atas kapal, galangan, pelabuhan, maupun fasilitas lepas pantai.

Tantangan Keselamatan di Sektor Maritim

Sektor maritim dikenal sebagai salah satu sektor dengan risiko kerja tinggi. Faktor cuaca, kondisi laut, beban kerja fisik, hingga tekanan mental akibat jadwal kerja yang panjang menjadi tantangan nyata bagi para pekerja. Dalam konteks pelayanan publik, risiko tersebut tidak hanya berdampak pada pekerja, tetapi juga pada keselamatan pengguna jasa dan masyarakat luas.

BKI, sebagai institusi yang terlibat langsung dalam pengujian dan sertifikasi keselamatan, menyadari bahwa satu kesalahan kecil dapat berujung pada dampak besar. Karena itu, pendekatan keselamatan harus bersifat menyeluruh, mulai dari kesiapan individu, kelayakan peralatan, hingga sistem manajemen yang kuat.

Melalui HSE Strategic Briefing 2026, BKI berupaya menyatukan persepsi seluruh jajaran mengenai pentingnya keselamatan sebagai fondasi pelayanan. Forum ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat komitmen pimpinan dan pegawai agar keselamatan tidak dikompromikan demi kecepatan atau efisiensi semu.

Mencegah Risiko Akibat Kelelahan dan Kesehatan

Salah satu isu yang mendapat perhatian khusus dalam briefing tersebut adalah risiko kerja akibat kelelahan dan kondisi kesehatan yang tidak prima. Benny menekankan bahwa manajemen kesehatan kerja harus menjadi bagian integral dari sistem keselamatan.

“Orang yang tidak sehat, baik secara fisik maupun mental, tidak akan pernah bisa bekerja dengan aman,” tegasnya.

Dalam praktiknya, hal ini diwujudkan melalui penguatan tindak lanjut Medical Check-Up (MCU) secara serius, bukan sekadar formalitas tahunan. Hasil pemeriksaan kesehatan harus menjadi dasar pengambilan keputusan penugasan, terutama untuk pekerjaan dengan tingkat risiko tinggi. Dengan demikian, potensi kecelakaan akibat kelelahan, stres, atau gangguan kesehatan dapat ditekan sejak dini.

Pendekatan ini sejalan dengan prinsip keselamatan modern yang menempatkan manusia sebagai pusat sistem (human-centered safety). Alih-alih menyalahkan individu ketika terjadi insiden, sistem keselamatan didorong untuk mengantisipasi keterbatasan manusia melalui perencanaan kerja yang realistis dan dukungan kesehatan yang memadai.

Dampak Langsung terhadap Kualitas Pelayanan Publik

Lingkungan kerja yang aman dan sehat memiliki korelasi langsung dengan kualitas pelayanan publik. Pekerja yang terlindungi secara fisik dan mental akan bekerja lebih fokus, objektif, dan profesional. Dalam konteks BKI, hal ini berarti proses klasifikasi, sertifikasi, dan inspeksi dapat dilakukan secara akurat dan independen, tanpa tekanan yang berpotensi menurunkan kualitas hasil kerja.

Pelayanan publik maritim yang andal juga berkontribusi pada keselamatan pelayaran nasional. Kapal yang dinyatakan laik laut melalui proses yang ketat dan aman akan mengurangi risiko kecelakaan di laut, melindungi awak kapal, penumpang, serta lingkungan maritim. Dengan kata lain, investasi pada keselamatan kerja internal berdampak luas pada kepentingan publik dan ekonomi nasional.

Keselamatan sebagai Pilar Keberlanjutan

Komitmen BKI terhadap keselamatan kerja juga sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan. Praktik kerja yang aman dan bertanggung jawab mendukung keberlanjutan sumber daya manusia, mengurangi kerugian akibat kecelakaan, serta menjaga kepercayaan publik terhadap institusi negara.

Melalui HSE Strategic Briefing 2026, BKI menegaskan bahwa keselamatan dan kesehatan kerja bukan sekadar bagian dari kepatuhan regulasi, melainkan pilar utama dalam membangun pelayanan publik maritim yang tangguh, berkelanjutan, dan berorientasi pada kepentingan nasional.

Di tengah meningkatnya aktivitas maritim Indonesia sebagai negara kepulauan, komitmen terhadap keselamatan kerja menjadi kunci agar sektor ini tidak hanya tumbuh secara ekonomi, tetapi juga kokoh dari sisi perlindungan manusia dan lingkungan. Dengan menjadikan keselamatan sebagai budaya, pelayanan publik maritim yang aman dan andal bukan lagi sekadar target, melainkan keniscayaan.

Baca Juga : Trump di Persimpangan: Risiko Militer dan Opsi Non-Mematikan untuk Krisis Iran

Cek Juga Artikel Dari Platform : suarairama