Nilai tukar rupiah mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), namun kondisi ini dinilai masih dalam ukuran yang dapat diterima oleh para investor, termasuk investor dari luar negeri. Rosan Perkasa Roeslani, yang kini menjabat sebagai Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), menyatakan bahwa fluktuasi nilai tukar tersebut merupakan bagian dari dinamika pasar global dan sejauh ini belum memengaruhi minat penanaman modal di Indonesia secara signifikan.
Menurut data pasar, rupiah sempat melemah sekitar 0,15 persen hingga mencapai sekitar Rp 16.880 per dolar AS — yang tercatat sebagai posisi penutupan terlemah dalam sejarah perdagangan. Namun Rosan menilai bahwa pergerakan ini masih termasuk dalam rentang yang “acceptable” atau dapat diterima oleh investor. Para penanam modal, kata dia, umumnya sudah memasukkan risiko pergerakan nilai tukar dalam perencanaan investasi mereka.
Investor Tetap Melihat Potensi Indonesia
Ketika menghadapi tekanan pada nilai tukar, faktor yang diperhitungkan investor tidak hanya angka kurs tetapi juga fundamental ekonomi secara keseluruhan. Rosan menekankan bahwa investor tetap melihat Indonesia sebagai pasar yang menarik karena pertumbuhan ekonomi yang solid, potensi pasar yang besar, serta komitmen pemerintah untuk terus memperbaiki iklim investasi.
Pernyataan Rosan juga mencerminkan bahwa masih belum ada laporan signifikan mengenai investor yang menarik atau menunda rencana investasinya hanya karena fluktuasi rupiah. Para penanam modal dinilai memiliki strategi mitigasi risiko termasuk diversifikasi portofolio dan perencanaan nilai tukar dalam jangka menengah hingga panjang.
Faktor Geopolitik dan Ketidakpastian Global
Selain isu nilai tukar, Rosan juga menyinggung tantangan eksternal yang tidak dapat dikendalikan oleh pemerintah Indonesia, seperti gejolak geopolitik dan ketegangan global. Konflik antarnegara atau perubahan kebijakan ekonomi di negara maju bisa memengaruhi sentimen investasi global, termasuk di Indonesia.
Ia mencontohkan beberapa situasi global yang dinilai bisa menimbulkan ketidakpastian pasar namun tetap menegaskan bahwa pemerintah fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan, seperti kebijakan dan regulasi investasi agar lebih kompetitif dan responsif terhadap kebutuhan investor. Dengan demikian, pihaknya terus memperbaiki aspek regulasi dan kebijakan agar iklim investasi semakin kondusif.
Komunikasi Aktif dengan Investor
Untuk menjaga kepercayaan investor, pemerintah melalui BKPM gencar berkomunikasi dengan para pelaku modal. Rosan menyampaikan bahwa pihaknya tidak hanya menunggu investor datang, tetapi juga proaktif melakukan pendekatan, baik melalui pertemuan langsung maupun secara daring, serta kunjungan delegasi ke berbagai negara.
“Yang di dalam negeri, kita kontrol dan selalu perbaiki. Terutama dari segi regulasi dan kebijakan,” tegas Rosan, menunjukkan pendekatan aktif pemerintah dalam memahami kebutuhan dan kekhawatiran investor. Kegiatan komunikasi ini penting agar ketidakpastian global dapat diminimalkan dampaknya terhadap keputusan investasi.
Diversifikasi Sumber Investasi
Salah satu alasan investor masih tertarik adalah diversifikasi sumber dan bentuk investasi di Indonesia. Meski tekanan ekonomi global bisa memengaruhi arus modal, struktur investasi yang beragam di Indonesia dinilai menjadi keunggulan kompetitif. Investor dari berbagai negara memilih Indonesia bukan hanya karena pasar domestiknya yang besar, tetapi juga karena potensi pertumbuhan di sektor-sektor strategis seperti manufaktur, energi terbarukan, hingga teknologi.
Namun demikian, Rosan tetap mengingatkan bahwa meski sentimen investor saat ini masih positif, pemerintah tidak boleh lengah. Menurutnya, penguatan fundamental ekonomi, peningkatan kualitas infrastruktur, serta perbaikan birokrasi tetap menjadi elemen penting agar Indonesia tetap menarik dalam jangka panjang.
Prospek Investasi Indonesia
Secara keseluruhan, meskipun nilai tukar rupiah mengalami tekanan, kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia dinilai masih kuat. Dengan pengelolaan ekonomi makro yang terencana, perbaikan iklim investasi, serta komunikasi yang intensif antara pemerintah dan pelaku usaha, arus investasi diperkirakan tetap dapat bertumbuh.
Rosan menggarisbawahi bahwa investasi adalah komitmen jangka panjang, dan investor cenderung menilai stabilitas, insentif, serta prospek masa depan pasar sebelum mengambil keputusan. Dengan pendekatan ini, Indonesia berharap dapat terus menarik modal asing sekaligus memperkuat investasi domestik dalam mendukung pembangunan nasional secara berkelanjutan.
Baca Juga : Dana Riset Nasional Naik, BRIN Fokus Pangan dan Energi
Cek Juga Artikel Dari Platform : cctvjalanan


More Stories
Berkas Roy Suryo Cs Dikembalikan, KUHAP Disorot Kuasa Hukum
MU Cetak Tiga Kemenangan Beruntun di Era Carrick
1.800 Warga Tiongkok Ditahan dalam Operasi Online Scam