Di lereng gunung yang sejuk dan subur, tempat kabut pagi turun perlahan dan aroma tanah basah bercampur dengan wangi daun kopi, para pekerja perkebunan kopi menjalani hidup yang tampak sederhana namun penuh makna. Di kawasan pegunungan inilah kopi arabika unggulan tumbuh, dipelihara dengan ketekunan, dan menjadi tulang punggung ekonomi ribuan keluarga. Namun di balik kualitas kopi yang dibanggakan hingga ke pasar global, tersimpan harapan yang sangat mendasar dari para pekerjanya: bekerja dengan rasa aman, tenang, dan bermartabat.
Bagi pekerja kebun kopi, ketenangan bukan sekadar suasana tanpa suara bising. Ketenangan adalah kepastian bahwa mereka bisa masuk kebun setiap hari tanpa rasa takut, bahwa tanaman yang dirawat tidak dirusak, dan bahwa jerih payah mereka dihargai sebagai bagian penting dari rantai produksi pangan nasional. Tanpa rasa aman, seluruh sistem kehidupan di perkebunan ikut terguncang.
Kebun Kopi sebagai Ruang Hidup
Setiap pagi, sebelum matahari sepenuhnya muncul dari balik punggung gunung, para pekerja sudah menyusuri barisan tanaman kopi. Ada yang membersihkan gulma, memangkas cabang, memupuk tanah, hingga memeriksa buah kopi yang mulai memerah. Aktivitas ini berlangsung berulang, hari demi hari, dan telah menjadi ritme hidup lintas generasi.
Bagi mereka, kebun bukan hanya tempat bekerja. Kebun adalah ruang hidup. Dari hasil kerja di sanalah biaya sekolah anak dipenuhi, kebutuhan rumah tangga dijaga, dan harapan masa depan dirawat. Karena itu, stabilitas dan keamanan di lingkungan perkebunan menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar.
Ketika kondisi kebun kondusif, para pekerja dapat bekerja secara profesional dan fokus. Produktivitas meningkat, kualitas kopi terjaga, dan siklus ekonomi desa berjalan dengan sehat. Sebaliknya, ketika kebun diliputi konflik atau gangguan, yang terdampak bukan hanya tanaman kopi, tetapi juga psikologis pekerja dan keluarganya.
Harapan Akan Lingkungan Kerja yang Aman
Dalam berbagai kesempatan, para pekerja menyuarakan keinginan agar aktivitas perkebunan dapat berlangsung tanpa gangguan. Mereka tidak menuntut hal berlebihan, hanya ingin kepastian bahwa hak mereka untuk bekerja dilindungi dan dihormati.
Ketua Serikat Pekerja Perkebunan Regional 5 PTPN I (eks PTPN XII), Bramantyo, menegaskan bahwa inti perjuangan pekerja bukan sekadar soal lahan, melainkan soal rasa aman dan kepastian hidup.
“Yang kami perjuangkan bukan semata soal lahan, tetapi rasa aman untuk bekerja dan hidup. Ketika kebun dirusak, akses dibatasi, dan konflik dibiarkan berlarut, yang hilang bukan hanya tanaman kopi, tetapi juga ketenangan dan kepastian hidup pekerja beserta keluarganya,” ujarnya di Bondowoso.
Pernyataan ini mencerminkan kegelisahan banyak pekerja perkebunan di kawasan pegunungan. Mereka ingin tetap menjaga kebun, merawat tanaman, dan berkontribusi bagi daerah, selama ruang kerja mereka tidak berubah menjadi sumber kecemasan.
Dampak Langsung pada Produktivitas Kopi
Lingkungan kerja yang aman dan tertib diyakini memiliki dampak langsung terhadap hasil produksi kopi. Kopi arabika yang tumbuh di lereng gunung membutuhkan perawatan konsisten dan jangka panjang. Gangguan kecil saja dapat memengaruhi kualitas panen, bahkan berdampak hingga musim berikutnya.
Ketika pekerja merasa terancam atau tidak nyaman, fokus kerja terganggu. Perawatan tanaman menjadi tidak optimal, panen tertunda, dan kualitas biji kopi menurun. Dalam skala besar, kondisi ini dapat memengaruhi reputasi kopi daerah dan daya saing Indonesia di pasar internasional.
Sebaliknya, ketenangan kerja menciptakan rasa memiliki. Pekerja tidak hanya menjalankan tugas, tetapi juga menjaga kebun dengan kesadaran bahwa keberlanjutan perkebunan adalah keberlanjutan hidup mereka sendiri.
Kopi, Identitas Daerah, dan Martabat Pekerja
Di banyak wilayah pegunungan Indonesia, kopi telah menjadi identitas daerah. Nama-nama kopi dari lereng gunung dikenal luas, bahkan menjadi kebanggaan nasional. Namun identitas ini tidak lahir begitu saja. Ia dibangun dari kerja keras para pekerja kebun yang sering luput dari sorotan.
Para pekerja menyadari bahwa keberhasilan kopi Indonesia tidak bisa dilepaskan dari stabilitas sosial di kawasan perkebunan. Konflik yang berlarut tidak hanya merugikan pekerja, tetapi juga mencederai ekosistem ekonomi dan sosial desa.
Karena itu, mereka berharap semua pihak—pengelola perkebunan, pemerintah, dan aparat terkait—hadir secara nyata untuk memastikan kebun tetap menjadi ruang kerja yang aman. Kehadiran negara dipandang penting untuk menjamin bahwa hukum dan aturan ditegakkan secara adil, tanpa mengorbankan pihak yang menggantungkan hidupnya dari kebun.
Menjaga Kebun, Menjaga Masa Depan
Harapan para pekerja kebun kopi sebenarnya sangat sederhana. Mereka ingin terus bekerja, menjaga kebun, dan menghasilkan kopi terbaik bagi daerah dan negara. Tidak ada keinginan untuk memperkeruh keadaan. Aspirasi disampaikan secara damai dan terbuka, sebagai bentuk tanggung jawab terhadap keberlanjutan perkebunan.
Bekerja dengan aman dan bermartabat bukan hanya hak pekerja, tetapi juga investasi jangka panjang bagi sektor perkebunan nasional. Ketika pekerja merasa terlindungi, mereka akan menjaga kebun dengan sepenuh hati. Dari situlah kualitas kopi terjaga, ekonomi daerah bergerak, dan kesejahteraan keluarga pekerja dapat ditingkatkan.
Di lereng gunung yang sunyi dan sejuk itu, harapan para pekerja kebun kopi sesungguhnya sederhana: bekerja tenang hari ini, agar masa depan tetap bisa dirawat esok hari. Harapan kecil yang jika dipenuhi, akan berdampak besar bagi keberlanjutan kopi Indonesia.
Baca juga : IHSG Cetak Rekor Tertinggi, Menuju Level 10.000?
Cek Juga Artikel Dari Platform : mabar


More Stories
Berkas Roy Suryo Cs Dikembalikan, KUHAP Disorot Kuasa Hukum
MU Cetak Tiga Kemenangan Beruntun di Era Carrick
1.800 Warga Tiongkok Ditahan dalam Operasi Online Scam