seputardigital.web.id Derita warga Aceh akibat banjir bandang masih terus berlangsung. Setelah waktu yang cukup lama berlalu sejak banjir pertama melanda, kondisi di sejumlah wilayah belum menunjukkan pemulihan signifikan. Justru, ancaman banjir susulan, krisis air bersih, dan merebaknya penyakit menjadi kenyataan pahit yang harus dihadapi ribuan warga setiap hari.
Salah satu wilayah terdampak parah adalah Kabupaten Pidie Jaya. Di kawasan ini, banjir tidak datang sekali lalu surut, melainkan berulang kali menerjang permukiman. Air bah yang datang silih berganti membuat warga hidup dalam ketidakpastian, selalu bersiap menghadapi kemungkinan terburuk setiap kali hujan turun.
Perubahan Alur Sungai Picu Banjir Berulang
Menurut penuturan Muhammad Habibi, banjir bandang pertama membawa dampak besar terhadap kondisi lingkungan. Alur Sungai Meureudu mengalami perubahan drastis akibat timbunan lumpur dan gelondongan kayu.
Material tersebut menutup aliran sungai sepanjang beberapa kilometer. Akibatnya, air tidak lagi mengalir melalui jalur semula, melainkan menerjang permukiman warga secara langsung. Situasi ini menyebabkan banjir datang dengan arus yang jauh lebih deras dan berbahaya dibanding sebelumnya.
Habibi menjelaskan bahwa perubahan alur sungai membuat air dari pegunungan mencari jalur baru. Ketika hujan kembali turun, air tidak memiliki ruang aliran yang cukup, sehingga meluap dan menghantam desa-desa yang berada di jalur baru tersebut.
Desa-Desa dalam Jalur Bahaya
Beberapa desa berada tepat di jalur lurus aliran air yang berubah. Permukiman yang sebelumnya relatif aman kini menjadi wilayah paling rentan. Air bah menerjang tanpa banyak peringatan, membawa lumpur tebal yang mengubur kebun, rumah, dan fasilitas umum.
Desa-desa di wilayah hulu hingga hilir sungai ikut terdampak. Aliran air yang tak terkendali bahkan mengarah hingga kawasan dekat laut. Selama kondisi sungai belum dinormalisasi, ancaman banjir akan terus menghantui warga yang tinggal di sepanjang aliran tersebut.
Ribuan Warga Masih Mengungsi
Akibat banjir susulan yang terus terjadi, lebih dari belasan ribu warga terpaksa meninggalkan rumah mereka. Pengungsian tersebar di berbagai titik, terutama di kecamatan yang dipisahkan oleh Sungai Meureudu. Sebagian besar pengungsi berasal dari wilayah yang paling sering terendam banjir.
Namun, kondisi tempat pengungsian jauh dari kata ideal. Banyak tenda darurat didirikan di atas hamparan lumpur yang telah mengering. Ketika hujan turun, lumpur kembali lembek dan tergenang air, membuat lingkungan pengungsian menjadi tidak sehat dan rawan penyakit.
Tenda Darurat yang Tidak Layak
Di beberapa desa, endapan lumpur mencapai ketinggian hingga beberapa meter. Tenda-tenda pengungsian berdiri di atas lapisan lumpur tersebut. Kondisi ini membuat pengungsi harus hidup dalam situasi yang lembap, dingin, dan penuh risiko kesehatan.
Minimnya fasilitas sanitasi memperparah keadaan. Akses air bersih terbatas, sementara kebutuhan dasar seperti toilet dan tempat mandi tidak memadai. Kondisi ini menciptakan lingkungan yang ideal bagi penyebaran penyakit.
Warga Bertahan dengan Cara Berisiko
Sebagian warga memilih bertahan di rumah masing-masing meski banjir terus berulang. Setiap kali air mulai naik, mereka berpindah ke bagian rumah yang lebih tinggi. Saat air semakin meninggi, warga naik ke plafon, lalu ke atap rumah untuk menyelamatkan diri.
Begitu air surut, mereka kembali turun dan membersihkan lumpur yang tersisa. Pola ini terjadi berulang kali selama berminggu-minggu. Kondisi tersebut sangat menguras tenaga dan berdampak buruk bagi kesehatan fisik maupun mental warga.
Ancaman Penyakit Mengintai
Lingkungan yang dipenuhi lumpur dan genangan air menjadi pemicu munculnya berbagai penyakit. Banyak warga mengalami gangguan kesehatan, mulai dari penyakit kulit hingga infeksi saluran pernapasan akut. Salah satu yang mengkhawatirkan adalah dugaan infeksi cacing tambang pada kaki warga.
Menurut Habibi, infeksi tersebut awalnya terlihat seperti garis di bawah kulit. Dalam beberapa hari, kondisi ini bisa memburuk dan menimbulkan luka. Penyakit kulit semacam ini mudah menyebar di lingkungan lembap dan kotor, terutama ketika warga harus sering berinteraksi langsung dengan lumpur.
Krisis Air Bersih dan Sanitasi
Selain penyakit kulit dan pernapasan, krisis air bersih menjadi masalah besar. Banyak sumber air tercemar lumpur dan tidak layak konsumsi. Warga kesulitan mendapatkan air bersih untuk minum, memasak, dan menjaga kebersihan diri.
Keterbatasan air bersih memperbesar risiko wabah penyakit. Tanpa intervensi cepat, kondisi kesehatan warga dikhawatirkan akan semakin memburuk, terutama bagi anak-anak dan lansia.
Harapan pada Normalisasi Sungai
Warga dan pemerhati lingkungan menilai bahwa solusi jangka panjang terletak pada normalisasi Sungai Meureudu. Selama aliran sungai belum dikembalikan dan dibersihkan dari lumpur serta kayu, banjir susulan akan terus terjadi setiap kali hujan turun.
Upaya normalisasi membutuhkan koordinasi lintas pihak dan dukungan alat berat. Warga berharap pemerintah dan pihak terkait dapat bergerak lebih cepat agar ancaman banjir tidak menjadi siklus berkepanjangan.
Derita yang Butuh Perhatian Serius
Kondisi di Aceh saat ini bukan sekadar persoalan bencana alam, tetapi juga krisis kemanusiaan. Ribuan warga hidup dalam ketidakpastian, menghadapi ancaman banjir, penyakit, dan keterbatasan kebutuhan dasar.
Derita yang tak kunjung surut ini menjadi pengingat bahwa penanganan pascabencana membutuhkan langkah menyeluruh. Tanpa solusi struktural dan perhatian berkelanjutan, warga Aceh akan terus hidup di bawah bayang-bayang banjir yang bisa datang kapan saja.

Cek Juga Artikel Dari Platform bengkelpintar.org

More Stories
Bos Maktour Diperiksa KPK Soal Kuota Haji Nasional
Thomas Djiwandono Jadi DG BI Rupiah Menguat Stabil
Tragedi Longsor Cisarua Satu Keluarga Ditemukan Berpelukan