Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencatat sejarah baru di pasar modal Indonesia. Dalam enam hari perdagangan berturut-turut, IHSG berhasil menguat signifikan sebesar 4,77 persen dan pada penutupan Rabu, 7 Januari 2026, indeks kebanggaan pasar saham nasional ini bertengger di level 8.944, sekaligus menorehkan rekor tertinggi sepanjang sejarah (all time high).
Pencapaian tersebut menjadi sinyal kuat meningkatnya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia. Di tengah dinamika global yang masih dibayangi ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi kebijakan moneter negara maju, pasar saham Indonesia justru menunjukkan performa yang solid dan konsisten.
Rekor Baru di Bursa Efek Indonesia
Penguatan IHSG terjadi di Bursa Efek Indonesia dengan nilai transaksi harian yang terbilang besar, mencapai Rp36,83 triliun. Angka ini mencerminkan tingginya aktivitas perdagangan dan partisipasi investor, baik dari dalam negeri maupun asing.
Secara rinci, pergerakan saham pada hari tersebut menunjukkan dinamika yang cukup seimbang:
- 344 saham menguat
- 362 saham melemah
- 104 saham stagnan
Meski jumlah saham yang melemah sedikit lebih banyak, penguatan saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) menjadi motor utama yang mendorong IHSG mencetak rekor baru. Kapitalisasi pasar pun melonjak signifikan hingga menyentuh kisaran Rp16.351 triliun, mencerminkan bertambahnya nilai kekayaan di pasar modal nasional.
Enam Hari Penguatan Beruntun: Apa Pendorongnya?
Reli IHSG selama enam hari berturut-turut tidak terjadi secara kebetulan. Ada sejumlah faktor fundamental dan sentimen positif yang menjadi pendorong utama penguatan pasar.
Pertama, stabilitas makroekonomi Indonesia dinilai tetap terjaga. Inflasi yang terkendali, pertumbuhan ekonomi yang solid, serta konsumsi domestik yang kuat memberikan landasan yang kokoh bagi pasar saham.
Kedua, ekspektasi kebijakan fiskal dan moneter yang pro-pertumbuhan turut menopang sentimen investor. Pemerintah dinilai mampu menjaga keseimbangan antara stimulus ekonomi dan kehati-hatian fiskal, sehingga risiko jangka menengah tetap terkelola.
Ketiga, arus dana investor asing yang kembali masuk ke pasar saham Indonesia menjadi katalis penting. Di tengah ketidakpastian global, Indonesia dipandang sebagai salah satu emerging market dengan prospek pertumbuhan yang menjanjikan dan risiko yang relatif terkendali.
Optimisme Pemerintah: IHSG Bisa Tembus 10.000
Optimisme terhadap laju IHSG tidak hanya datang dari pelaku pasar, tetapi juga dari pemerintah. Purbaya Yudhi Sadewa, selaku Menteri Keuangan, secara terbuka menyampaikan keyakinannya bahwa IHSG berpotensi menembus level 10.000 pada akhir tahun 2026.
“Tahun ini (capai level) 10.000. Itu bukan angka yang mustahil dicapai,” ujar Purbaya dalam tayangan Zona Bisnis Metro TV, Kamis, 8 Januari 2026.
Bahkan dengan nada optimistis, Purbaya menyebut bahwa perjalanan IHSG bukan lagi sekadar to the moon, melainkan sudah to the mars. Ungkapan tersebut mencerminkan keyakinan kuat pemerintah terhadap fondasi ekonomi nasional yang dinilai semakin matang dan siap menopang pertumbuhan pasar modal yang lebih tinggi.
Fondasi Ekonomi Dinilai Semakin Kuat
Menurut Menkeu, salah satu kunci utama optimisme tersebut adalah fondasi ekonomi Indonesia yang sudah terbentuk dengan baik. Reformasi struktural, peningkatan kualitas belanja negara, serta penguatan sektor riil menjadi faktor yang diyakini mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi.
“Kendali ekonomi sudah terpegang dengan penuh,” tegas Purbaya. Ia menilai koordinasi kebijakan antar-lembaga berjalan lebih solid, sehingga respons terhadap tantangan global bisa dilakukan dengan lebih cepat dan tepat.
Kepercayaan ini tercermin dari pasar saham yang mulai merefleksikan ekspektasi pertumbuhan jangka panjang, bukan hanya sentimen jangka pendek. Investor tidak sekadar berspekulasi, tetapi mulai menempatkan dana dengan horizon investasi yang lebih panjang.
Dampak Rekor IHSG bagi Investor Ritel
Bagi investor ritel, rekor tertinggi IHSG menjadi momentum penting sekaligus tantangan. Di satu sisi, kenaikan indeks membuka peluang keuntungan yang besar. Namun di sisi lain, risiko koreksi tetap perlu diantisipasi, terutama jika penguatan terjadi terlalu cepat.
Para analis mengingatkan agar investor tetap selektif dalam memilih saham. Fokus pada emiten dengan fundamental kuat, kinerja keuangan sehat, serta prospek bisnis jangka panjang dinilai menjadi strategi yang lebih aman dibandingkan mengejar saham yang naik semata karena sentimen.
Diversifikasi portofolio juga menjadi kunci penting agar risiko dapat dikelola dengan lebih baik, terutama di tengah volatilitas pasar global yang masih mungkin terjadi sepanjang 2026.
Tantangan Global Masih Mengintai
Meski IHSG mencetak rekor, tantangan global tidak bisa diabaikan. Kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, ketegangan geopolitik, hingga fluktuasi harga komoditas masih berpotensi memengaruhi pergerakan pasar.
Namun, banyak pihak menilai pasar saham Indonesia kini berada pada posisi yang lebih resilien dibandingkan periode-periode sebelumnya. Ketergantungan terhadap faktor eksternal perlahan berkurang seiring menguatnya basis investor domestik dan perbaikan struktur ekonomi nasional.
Menuju Era Baru Pasar Modal Indonesia
Pencapaian IHSG di level 8.944 bukan sekadar angka statistik, melainkan simbol kepercayaan dan optimisme terhadap masa depan ekonomi Indonesia. Jika tren positif ini mampu dijaga dengan kebijakan yang konsisten dan reformasi yang berkelanjutan, target IHSG di level 10.000 bukanlah sekadar wacana.
Ke depan, pasar modal diharapkan semakin berperan sebagai sumber pembiayaan pembangunan dan wadah investasi yang inklusif bagi masyarakat luas. Rekor tertinggi IHSG di awal 2026 bisa menjadi titik awal menuju era baru pasar saham Indonesia yang lebih matang, kuat, dan berdaya saing global.
Baca Juga : Kemlu Pantau Ketat WNI di Tengah Badai Salju Ekstrem Eropa
Cek Juga Artikel Dari Platform : olahraga


More Stories
Berkas Roy Suryo Cs Dikembalikan, KUHAP Disorot Kuasa Hukum
MU Cetak Tiga Kemenangan Beruntun di Era Carrick
1.800 Warga Tiongkok Ditahan dalam Operasi Online Scam