February 4, 2026

seputardigital

update terbaru informasi teknologi seluruh dunia

Protes Anti-ICE Meluas di AS usai Penembakan Minneapolis

Gelombang protes anti-ICE kembali mengguncang Amerika Serikat setelah penembakan fatal yang melibatkan agen federal di Minneapolis serta insiden penembakan lain di Portland, Oregon. Ribuan warga turun ke jalan di berbagai kota besar dan kecil sepanjang akhir pekan, menyuarakan kemarahan, ketakutan, dan tuntutan perubahan terhadap kebijakan penegakan imigrasi yang dinilai semakin represif.

Aksi-aksi tersebut menandai eskalasi terbaru ketegangan antara warga sipil dan aparat Immigration and Customs Enforcement (ICE), lembaga penegak hukum imigrasi Amerika Serikat, yang dalam beberapa bulan terakhir memperluas operasi penahanan di berbagai negara bagian.


Minneapolis Jadi Titik Api Protes

Kota Minneapolis berada di pusat perhatian nasional setelah tewasnya Renee Good, 37 tahun, yang ditembak oleh agen ICE dalam sebuah insiden yang masih diperdebatkan kronologinya. Kematian Good memicu kemarahan luas, terutama karena lokasi kejadian hanya berjarak beberapa blok dari tempat George Floyd meninggal pada 2020—peristiwa yang dahulu memantik demonstrasi besar-besaran soal rasisme dan kekerasan aparat.

Ribuan demonstran memadati jalan-jalan Minneapolis, membawa poster buatan tangan bertuliskan “ICE Out”, “No More Fear”, dan “Justice for Renee”. Di tengah suhu beku, massa bertahan berjam-jam untuk menyampaikan pesan bahwa operasi ICE telah menciptakan rasa tidak aman di lingkungan tempat tinggal mereka.

Seorang peserta aksi, Meghan Moore, ibu dua anak asal Minneapolis, mengatakan banyak keluarga kini hidup dalam kecemasan. “Kami takut keluar rumah, takut anak-anak kami melihat penangkapan bersenjata di jalan. Ini bukan rasa aman, ini teror,” ujarnya kepada media setempat.


Insiden Ricuh dan Seruan Aksi Damai

Meski sebagian besar aksi berlangsung damai, ketegangan sempat meningkat pada Jumat malam ketika demonstrasi di luar sebuah hotel di Minneapolis berubah ricuh. Sekitar 1.000 orang dilaporkan berkumpul, dan sebagian kecil massa melempar es, salju, serta batu ke arah petugas. Seorang polisi mengalami luka ringan, sementara 29 orang dikenai sanksi sebelum dibebaskan.

Wali Kota Minneapolis Jacob Frey menegaskan bahwa hak untuk menyampaikan pendapat dilindungi, namun tindakan perusakan tidak akan ditoleransi. Ia menyebut adanya provokator yang berusaha memancing kekacauan di tengah aksi damai.

Gubernur Minnesota Tim Walz turut menyerukan ketenangan. Menurutnya, pengerahan ribuan agen federal bersenjata ke negara bagian tersebut telah menciptakan situasi yang berujung pada korban jiwa hanya dalam satu hari. Walz menegaskan perlawanan terhadap kebijakan federal harus ditempuh melalui jalur damai, hukum, dan demokrasi.


Protes Menyebar ke Portland dan Kota Lain

Tak hanya Minneapolis, kemarahan publik juga meluas ke Portland, menyusul penembakan terhadap dua orang lainnya dalam operasi terpisah. Aksi solidaritas dan demonstrasi anti-ICE digelar di berbagai negara bagian, termasuk Carolina Utara, Texas, Kansas, Ohio, Florida, New Mexico, hingga wilayah Midwest dan Pantai Barat.

Di banyak kota, demonstran menuntut penghentian operasi penahanan massal, transparansi investigasi penembakan, serta reformasi menyeluruh kebijakan imigrasi. Poster-poster yang dibawa massa menyoroti hak asasi manusia, perlindungan warga sipil, dan kritik terhadap penggunaan kekuatan bersenjata dalam penegakan imigrasi sipil.


Respons Pemerintah Federal

Pemerintahan Presiden Donald Trump membela tindakan aparat dengan menyebut penembakan di Minneapolis dan Portland sebagai bela diri. Pejabat Departemen Keamanan Dalam Negeri menyatakan bahwa agen menghadapi ancaman langsung, dengan klaim bahwa kendaraan digunakan sebagai senjata oleh pengemudi.

Pernyataan tersebut menuai kritik tajam dari kelompok hak sipil yang menilai narasi “bela diri” kerap digunakan untuk membenarkan penggunaan kekuatan mematikan. Mereka menuntut investigasi independen dan pembatasan ketat terhadap kewenangan agen ICE di ruang publik.


Operasi ICE Terbesar dan Ketakutan Warga

Departemen Keamanan Dalam Negeri AS mengonfirmasi bahwa pengerahan aparat di kawasan Minneapolis–St. Paul merupakan operasi penegakan imigrasi terbesar yang pernah dilakukan. Lebih dari 2.000 petugas federal dilaporkan dikerahkan ke Minnesota, sebagian dikaitkan dengan penyelidikan dugaan penipuan yang melibatkan sebagian warga keturunan Somalia.

Namun, di lapangan, operasi ini memicu konsekuensi sosial yang luas. Kepolisian Minneapolis melaporkan menerima sejumlah panggilan darurat terkait kendaraan yang ditinggalkan setelah pengemudinya ditahan ICE, termasuk satu kasus di mana seekor anjing tertinggal di dalam mobil. Situasi ini memperkuat kesan bahwa penegakan imigrasi berdampak langsung pada keselamatan dan kesejahteraan komunitas.


Ketegangan dengan Anggota Kongres

Ketegangan juga merambah ranah politik. Tiga anggota DPR AS dari Minnesota mencoba mengunjungi fasilitas ICE di gedung federal Minneapolis sebagai bagian dari fungsi pengawasan legislatif. Namun, mereka diminta meninggalkan lokasi setelah sekitar 10 menit.

Para legislator tersebut menuduh ICE menghalangi tugas pengawasan parlemen, meski pengadilan federal sebelumnya telah memblokir sementara kebijakan yang membatasi kunjungan anggota Kongres ke fasilitas imigrasi. Insiden ini memperdalam kritik terhadap kurangnya transparansi lembaga tersebut.


Bayang-Bayang 2020 dan Masa Depan Gerakan

Banyak pengamat menilai protes kali ini mengingatkan kembali pada gelombang demonstrasi 2020 pascakematian George Floyd. Meski skala kerusuhan relatif lebih kecil dan aparat lebih terkendali, kemarahan publik dinilai memiliki akar yang sama: ketidakpercayaan terhadap aparat bersenjata dan tuntutan keadilan struktural.

Kelompok aktivis menegaskan bahwa aksi “ICE Out” bukan sekadar respons emosional, melainkan bagian dari gerakan jangka panjang untuk mengubah cara Amerika Serikat menangani isu imigrasi. Mereka menuntut pendekatan yang lebih manusiawi, berbasis hukum sipil, dan menjunjung tinggi hak asasi manusia.


Penutup

Meluasnya protes anti-ICE di seantero Amerika Serikat menunjukkan betapa sensitif dan kompleksnya isu imigrasi di bawah pemerintahan saat ini. Penembakan di Minneapolis dan Portland telah menjadi pemicu, namun akar persoalannya jauh lebih dalam—menyangkut rasa aman warga, akuntabilitas aparat, dan arah kebijakan nasional.

Di tengah seruan damai dari pejabat lokal dan pembelaan pemerintah federal, satu hal menjadi jelas: perdebatan soal peran ICE dan masa depan penegakan imigrasi di Amerika Serikat masih akan terus berlanjut, baik di jalanan, ruang sidang, maupun bilik suara pemilu.

Baca Juga : Mentan Desak Usut Tuntas Penyelundupan Bawang di Semarang

Cek Juga Artikel Dari Platform : iklanjualbeli